Langkah pertama sudah aku lakukan jauh hari.
Melanjutkan langkah hingga kini.
Jelas sudah aku tak sendiri.
Apakah aku masih bermalas diri.
Melihat keadaan sana sini.
Penuh kejutan dan misteri.
Duhai Sang pemilik hati.
Karuniai aku ilmu padi.
Semakin merunduk jika berisi.
Jangan sombong yang Kau beri.
Semakin membuat hina diri.
Wahai Dzat yang Maha mencondongkan hati.
Condongkanlah kepada kebenaran hakiki.
Jangan kau sesatkan menuju tempat berapi.
Aku akan berusaha sekuat diri.
Tuk memperbaiki jasamani dan rohani.
Karena hidup dunia bukanlah hakiki.
Namun hanya ketawa-ketiwi.
Tak sadar maut selalu mengintai.
Dikala ingat maupun lalai.
Aku hanyalah seorang pemimpi.
Pemimpi yang memegang mimpi.
Sekuat jangkar yang terbuat dari besi.
Semoga Engkau anugerahkan kepada hamba ini.
Sedikit pemahaman akan kesenangan yang hakiki.
Agar tidak menjadi golongan yang merugi.
Melanjutkan langkah hingga kini.
Jelas sudah aku tak sendiri.
Apakah aku masih bermalas diri.
Melihat keadaan sana sini.
Penuh kejutan dan misteri.
Duhai Sang pemilik hati.
Karuniai aku ilmu padi.
Semakin merunduk jika berisi.
Jangan sombong yang Kau beri.
Semakin membuat hina diri.
Wahai Dzat yang Maha mencondongkan hati.
Condongkanlah kepada kebenaran hakiki.
Jangan kau sesatkan menuju tempat berapi.
Aku akan berusaha sekuat diri.
Tuk memperbaiki jasamani dan rohani.
Karena hidup dunia bukanlah hakiki.
Namun hanya ketawa-ketiwi.
Tak sadar maut selalu mengintai.
Dikala ingat maupun lalai.
Aku hanyalah seorang pemimpi.
Pemimpi yang memegang mimpi.
Sekuat jangkar yang terbuat dari besi.
Semoga Engkau anugerahkan kepada hamba ini.
Sedikit pemahaman akan kesenangan yang hakiki.
Agar tidak menjadi golongan yang merugi.
Posting Komentar