Ah sudah lama memang aku tidak menuliskan pikiran-pikiran yang terlintas di blog yang satu ini sampai-sampai ada yang ngingetin. Ya mungkin karena itu juga permintaanku kalo udah lama gak update ingetin dong haha.
Oke, maka biarlah kepalaku yang berbicara melalui tulisan kali ini dan mungkin tulisan-tulisan selanjutnya. Karena cukup penat memang jika tidak meluapkannya dalam sebuah bentuk entah keringat, tulisan, nyanyian, suara, hantaman, tangisan, dan semacamnya. hehe.
Jujur aku semakin sulit mengatur rutinitas harianku. Tak seperti fase-faseku yang dulu di mana semua kondisi sudah dikondisikan. Dalam fase perkuiahan ini aku memang jauh lebih bebas dari aturan-aturan dan lebih diberi kekuatan dalam menentukan rutinitasku. Namun bukankah di balik kekuatan yang besar maka niscaya juga ada tanggung jawab yang besar pula? Nah yang satu ini nih yang menurutku sulit-sulit gampang.
Jika kamu tanya apakah aku memahami hal tersebut? insyaallah aku paham. Akan tetapi jika kamu bertanya apakah kamu sudah melaksanakannya? Duh, maaf aku tak bisa menjawabnya lantaran malu melihat diri ini yang sampe begitunya jeleknya. Aku paham tapi sekedar paham. jelasin bisa, diskusi insyaallah bisa tapi praktekinnya sulit. Imanku belum kuat dan bahkan jika dibanding masa SMP aku menyadari terjadinya kemunduran pada ketaqwaan dalam diri ini. Astaghfirullah.
Aku semenjak SMA seakan-akan berubah merubah orientasiku tanpa sadar, aku sadar kalo itu seua dimulai dengan satu langkah kecil yang ak lakukan dan karena aku masih belum bisa mengontrol jiwa-raga ini alhasil aku semakin tak terkendali dan dikendalikan oleh sesuatu yang lain. Orientasiku berubah mengingat terpapar berbagai cahaya terang benderang di sekitarku. Aku bagaikan sebongkah batu arang di tengah bongkahan bahkan gundukan batu permata. Dan aku mengakui secara manusiawi aku yang arang selalu ingin juga menjadi salah satu batu permata.
Dan itulah yang sering membuatku agak gimana gitu. Sellau terobsesi ingin lebih dan lebih usah dan usaha dan mungkin terlalu keduniawian. Aku tak lagi menjunjung ukhrawi sebagaimana dulu SMP. Duh gusti gerakkan hati hamba-Mu yang bebal ini. Aku paham tapi aku mendekam. Aku ngerti tapi aku enggan berdiri. Aku tau tapi tak kuasa berbuat sesuatu. Disinilah aku semakin memahami bahwa hidayah itu hanya akan menghampiri jika Allah memberi kepadaku.
Aku tau sholat tahajud itu sangat mulia namun berapa kali aku sholat tahajud? sangat sedikit. Aku tau ngaji itu mulia tapi berapa juz aku ngaji dalam satu hari? sangat sedikit bahkan mungkin nggak sempat. Sungguh berbeda dari masa sebelumnya ketika melakukan kebaikan sangatlah mudah di lingkungan yang memang dikondisikan.
Aku sadar di usiaku yang semakin tua aku tak kunjung dewasa. Aku masih belum dewasa. padahal sudah seharusnya aku dewasa. Iya aku sudah baligh tapi aku belum akil. Ya Allah parah banget hamba-Mu yang satu ini. Ah aku selalu merasa kurang dan kurang. meski kadang juga aku merasa cukup dan akhirnya bisa dengan santai menghabiskan waktu dengan damai santai menikmati. Itu semua hanya kadang banget.
melihat dia yang semakin dewas, dia yang semakin berilmu, dia yang semakin piawai, dia yang semakin melejit prestasinya sungguh membuatku iri mereka semua sangat hebat. Aku masih belum seratus persen menemukan keuatanku tapi sudah lebih dari seribu persen menemukan kekuranganku. Bukankah orang yang berfokus pada kekuatannya akan jauh lebih baik dari yang berfokus pada sebaliknya?
mengingat udah adzan jadi ceracauan otakku dihentikan dulu ya. Lega tau nulis gak jelas begini haha
See you on top!
Posting Komentar